Di Jakarta, Berhenti di Lampu Merah Mesti Kuat-Kuat Mental

Sejatinya berhenti di lampu merah merupakan suatu keharusan yang mesti dilakukan oleh setiap pengendara sepeda motor maupun pengemudi mobil. Namun bagi anda yang sudah terbiasa berkendara di Jakarta, ada tantangan tersendiri ketika berani memutuskan diri untuk berhenti di lampu merah.

Lampu lalu lintas (menurut UU no. 22/2009 tentang Lalu lintas dan Angkutan Jalan: alat pemberi isyarat lalu lintas atau APILL.) Adalah lampu yang mengendalikan arus lalu lintas yang terpasang di persimpangan jalan. Kemudian juga Tempat penyeberangan pejalan kaki (zebra cross), dan tempat arus lalu lintas lainnya. Lampu ini yang menandakan kapan kendaraan harus berjalan dan berhenti secara bergantian dari berbagai arah. Pengaturan lalu lintas di persimpangan jalan dimaksudkan untuk mengatur pergerakan kendaraan pada masing-masing kelompok pergerakan kendaraan. Agar dapat bergerak secara bergantian sehingga tidak saling mengganggu antar-arus yang ada.

Berhenti di Lampu Merah Mesti Siap Mental

Nah pada kenyataannya ketika saya berkendara sehari-hari di Jakarta amat berbanding terbalik. Seolah-olah orang yang berhenti di lampu merah itu seperti orang “bego”, saking “begonya” mesti diklakson terus-terusan. Kejadian tersebut baru saja saya alami kemarin sore, ketika hendak menuju toko dibilangan Kebon Jeruk.

Ketika sedang berhenti di lampu merah terdengar suara klakson dari belakang. Wah, padahal kondisinya belum lampu hijau loh tapi sudah diteror klakson. Penasaran saya tengok kebelakang, ternyata pelakunya adalah oknum pengemudi mobil.

Seperti merasa ada teman sepemikiran, oknum pengendara RX-King yang tadinya santai-santai saja dibelakang saya mendadak seperti keluar watak aslinya. Seketika itu juga doi geber-geber motornya serasa lagi berada didepan garis start, widih berasa paling kenceng kali ya.

Beruntung enggak lama kemudian lampu berubah menjadi hijau, kemudian saya segera jalan dengan santai sembari menunggu pengendara yang tadi geber-geber motornya. Sayangnya pengendara motor tersebut enggak berani jalan lebih cepat dari saya, yowes deh.. lanjut gas ketoko lagi.

Taat Kalau Ada Polisi yang Lihat

Memang miris melihat pola tingkah laku kebanyakan oknum pengendara sepeda motor di Jakarta. Lampu merah, garis stop, yellow box, sering kali saya menyaksikan banyak oknum pengendara sepeda motor tidak mematuhinya dengan baik. Lain cerita jika ada pak polisi yang standby berjaga-jaga, semua mendadak patuh. Jadi seolah-olah rambu-rambu lalu-lintas itu mesti dipatuhi hanya ketika ada pak polisi yang berjaga.

Oke deh, mungkin kebanyakan orang yang melanggar rambu lalu-lintas karena buru-buru, menghemat waktu dan ingin cepat sampai. Pertanyaannya bagaimana jika setelah melanggar rambu lalu-lintas terjadi kecelakaan? bukannya cepat sampai tujuan, malah sampai dirumah sakit. Iya kalau sembuh normal, kalau cacat gimana? kalau mati? apa enggak kasihan dengan keluarga dirumah…

Yuk deh guys, kita mulai dari diri kita sendiri untuk patuh terhadap rambu lalu-lintas. Jangan perdulikan lagi orang-orang yang enggak sabaran ketika kita sedang mematuhi rambu lalu lintas, utamakan selamat!

Sama halnya nih tentang pemahaman soal kapan ban itu mesti diganti, kebanyakan orang nunggu sampai bannya botak. Padahal untuk mengganti ban bukan menunggu sampai botak loh guys, ada petunjuknya. Petunjuk tersebut bernama TWI, teman-teman bisa cek pada ban motor dirumah. Nah apabila permukaan ban sudah menyentuh TWI itu tandanya mesti ganti ban, demi kenyamanan dan keselamatan saat berkendara.

Jangan ditunggu sampai botak tuh guys, alih-alih ingin menghemat malah jadi berabe kalau terjadi kecelakaan akibat ban sudah botak. Takut mahal? tenang.. enggak semua ban motor mahal kok guys, kan ada IRC Tire. Soul GT dirumah saya saja pake ban IRC Tire tipe Enviro NR91, harganya terjangkau namun cukup bisa diandalkan untuk pemakaian harian.

Yuk baca juga artikel menarik lainnya berikut ini guys:

Mesin Husqvarna SMS4 125 Jadi Bukti Kesiapan Yamaha Garap Pasar Motor Trail

Facebook Comments
Yuk bagikan artikel ini...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *