Rossi VS Marquez Dari Segi Gaya Pengereman Berdasarkan Data Analisa Brembo!

Artikel kali ini akan saya bahas seputar dunia MotoGP, namun dari sudut pandang yang berbeda. Yups.. Lebih spesifiknya akan saya ulas seputar gaya pengereman antara Valentino Rossi VS Marquez berdasarkan data analisa dari Brembo.

Sebelumnya kita bahas dulu mengenai karakter masing-masing sirkuit disertai dengan detail data seputar pengereman:

Losail-Qatar

IMG-20160609-WA0015

 

Indianapolis

11218853_10152995232870978_7161555527883917626_n

Termas de Río Hondo-Argentina

IMG-20160609-WA0016

Circuit Of The Americas-Amerika

IMG-20160609-WA0018

Jerez-Spanyol

11168076_10152794611100978_2119808613780401280_n

Le Mans-Perancis

11188320_10152807307805978_4560999378627617128_n

Mugello-Italia

11146497_10152842607540978_525461808434708523_n

Sachsenring – Jerman

11402824_10152935579980978_6688479899953207640_n

Marco Simoncelli Misano – San Marino

11953048_10153069720120978_5976770422215313688_n

MotorLand Aragón

12003907_10153098064770978_6929189243387959230_n

Montegi – Jepang

12065602_10153120004315978_7601421945575475213_n

Phillip Island – Australia

12108125_10153131974180978_7844847167590307103_n

Sepang – Malaysia

12074941_10153143441895978_1152944089756984971_n

Valentino Rossi telah memenangkan 9 gelar juara dunia dan 112 kemenangan GP dan hebatnya pada usia 37 tahun belum ada niatan pensiun. Dan Marq Marquez telah memenangkan 4 gelar juara dunia dan 50 kemenangan GP diusia yang terbilang sangat muda yakni 23 tahun.

Valentino Rossi 1996

Credit foto dari google

Karir Valentino Rossi sangat terkait erat dengan Brembo, dalam kesuksesannya bahkan termasuk saat ia masih membalap dikelas 125cc dan 250cc saat ia masih membalap ditahun 1996-1999, ia selalu menggunakan sistem pengereman Brembo. Mengetahui Valentino Rossi adalah pembalap yang memiliki persyaratan yang sempurna untuk menjadi seorang tester, insinyur Brembo memperimbangkan ia menjadi seorang tester yang paling berpengaruh dalam pengembangan sistem pengereman.

italian-organization-files-a-complaint-against-marquez-and-lorenzo-101479_1

Credit foto dari google

Berawal karena teknik pengeremannya yang sangat kuat dan efektif, Rossi biasanya pulih beberapa meter dari pembalap yang mendahului dia  dengan menurunkan kakinya dari tuas rem sebelum masuk tikungan. Dia selalu memperbaiki kepekaan yang sangat baik dan itu telah ditunjukan selama karirnya yang panjang, pengeremannya selalu liniear dan tidak pernah tiba-tiba. Pada setiap saat menikung Rossi lebih memilih untuk mengontrol laju kendaraan dari roda depan untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, tidak mengherankan ia jarang terjatuh seperti yang pernah ia tunjukan ditahun 1996-2010.

maxresdefault (1)

Credit foto dari google

Sebaliknya Marc Marquez memiliki cara pendekatan pengereman yang “liar”. Pembalap asal Spanyol ini selalu mendorong kemampuan dirinya dan sepeda motornya sampai pada batasnya, dan ia juga tidak takut menghampiri motor pembalap lainnya saat race berlangsung. Lihat saja pada tahun 2015 ia sempat terjatuh 6 kali dalam balapan, sehingga ia keluar dari kandidat perebutan gelar juara dunia. Gaya pengeremannya menggunakan rem depan sesedikit mungkin dan kebetulan RC213V adalah salah satu dari beberapa sepeda motor dikelas utama yang menggunakan cakram dengan diameter yang lebih kecil ( umumnya 320 mm), kecuali pada track yang menuntut pengereman depan seperti Motegi.

ecco-perche-valentino-rossi-rischia-di-perdere-il-mondiale-motogp-2015

Credit foto dari google

Dua rival juga ditandai dengan memiliki perbedaan yang kontras untuk penggunaan rem belakang.  Tidak linier seperti Jorge Lorenzo, justru Valentino Rossi bersih dari penggunaan rem belakang saat sedang menikung merupakan salah satu keunggulannya. Untuk mengontrol pitching, the Doctor lebih suka mengandalkan puntiran gas dan berat tubuhnya.

447045

Credit foto dari google

Disisi lain, Marc Marquez mengadopsi gaya berkendara yang melibatkan pergerakan tubuh dan kepalanya saat menikung untuk membuatnya dapat membuka puntiran gas sebesar mungkin. Ia mengoreksi garis lintasan hanya dengan menggunakan rem belakang sehingga mampu mempertahankan kecepatan yang lebih tinggi saat menikung. Hasilnya ban belakang mengepot dan meninggalkan tanda mencolok diaspal.

Sumber: Brembo

Yuk isi komentar yang sehat… 😀

Thanks for reading… 🙂

Yuk bagikan artikel ini...

11 comments

  • Ninja PSK

    gaya… dan kenyamanan, gak bisa disamakan, atau diperdebatkan.
    titik
    TAMAT

  • Dulu tahun 2006 rossi jatoh dah, pas seri valencia pas nicky hayden juara dunia

  • HEN SWAIKE

    Sekilas dri penjelasan diatas,, jelas Vale lebih profesional, dgn mengutamakan keamanan tpi tdk mengurangi kecepatan,dan tidak membahayakan rider lain….
    Bersambung…..

  • ichsan

    Mungkin maksud admin….dari tahun 1996 – 2010 rossi gak pernah absen saat race…

  • kayanya dipengaruhi layout sirkuit juga kali ya? sirkuit2 itali kebanyakan mengumbar topspeed tapi disambung tikungan lowspeed jadi pembalap2 itali lebih terbiasa pake hardbraking, ga cuma rossi, ianone, dovi, simoncelli, juga punya gaya balap yang mirip.
    sementara sirkuit2 spanyol kebanyakan teknikal dgn jarak antar tikungan lebih rapat & sambung menyambung jadi ga banyak hardbraking, bikin pembalap spanyol lebih terlatih ngerem halus biar bisa nikung lebih kenceng. lorenzo, pedrosa, vinales, gaya balapnya hampir sama 😀
    marq sebenernya unik, gaya balapnya kaya stoner, sama2 pake gaya dirttrack, ngoreksi arah tikungan pake rem belakang & overspin ban belakang 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *